Dermaga Bersahaja dan Kapal yang Lelah

 

Dermaga Bersahaja dan Kapal yang Lelah

​Prahara jilid dua baru saja melandai,

meninggalkan sisa asin di bibir dan layar yang terkulai.

Banyak samudera telah kubelah, banyak hantaman yang kulalui,

hingga langkah ombak membawaku pada sebuah dermaga sunyi.

Ia nampak sederhana, tanpa mercusuar yang menjulang tinggi,

namun ketenangannya adalah jenis indah yang tak mampu kumengerti.

​Aku terpaku di balik kemudi yang gemetar,

menatap tubuh kapalku yang tak lagi tegak terpancar.

Ada goresan-goresan dalam, saksi bisu hantaman karang,

ada tambalan-tambalan kasar, sisa upaya agar tidak karam saat berjuang.

Lalu sebuah tanya menghantam lebih keras dari badai:

"Sanggupkah dermaga sebersahaja ini menahan beban kapal sebesar ini?"

​Pikiranku riuh, berbisik lebih bising dari deru angin,

takut jika kehadiranku yang penuh cacat justru merusak yang kau ingin.

Apakah kayu-kayu rapuhmu sanggup menerima rongsokan masa laluku?

Ataukah indahmu akan runtuh jika aku memaksa bersandar padamu?

​Namun di sinilah aku, menatapmu dengan segala usang yang kubawa,

ingin menjadikanmu persinggahan akhir dari segala duka.

Sebab di hadapanmu, aku tak ingin lagi sekadar memperbaiki luka;

aku ingin melucuti kayu-kayu lama, menanggalkan setiap trauma.

​Biarlah dermagamu menjadi saksi pergantian kemudi,

tempatku meluruhkan diri untuk terlahir kembali.

Bukan lagi kapal besar yang penuh tambalan rasa sangsi,

melainkan kapal baru yang cukup layak untuk tinggal,

dan cukup tangguh untuk menemanimu mengarungi abadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profile

Berlayar Kembali Setelah Badai