Berlayar Kembali Setelah Badai
"Langit masih kelabu, angin masih berbisik sendu...
Di mana pelangi yang dijanjikan?
Ataukah ia hanya fatamorgana yang menipu harapan?"
Orang bilang, setelah badai pasti ada pelangi. Namun hingga kini, mataku masih mencari lengkung warna di langit kelabu. Bahkan, muncul keraguan—akankah pelangi itu benar-benar datang, atau justru ia pergi bersama malaikat yang kembali ke langit? Meski begitu, di balik ketidakpastian ini, secercah harapan tetap menyala, berasal dari energi-energi kecil di sekelilingku yang nyaris tak kasatmata, namun tetap ada.
"Kau yang telah pergi, tinggalkanku sendiri…
Mencoba bertahan di dunia yang tak lagi sama…"
(Lirik lagu dari Seventeen – Kemarin)
Aku merasa seperti kapal yang karam setelah sekian lama berlayar. Badai telah mengubah arahku, mengguncang keyakinanku. Lebih sulit lagi, aku hanyalah seorang nakhoda pemula—belum berpengalaman dalam menghadapi gelombang lautan yang ganas. Aku butuh rekan, seseorang yang bisa membimbing dan menemani, tetapi kini pertanyaannya: masih perlukah aku mencari teman berlayar? Atau mungkin, sudah saatnya aku belajar menakhodai kapal ini seorang diri? Badai telah merenggut mentorku, sosok yang selama ini menjadi mercusuar dalam kegelapan, support system dengan ketulusan yang tak tertandingi.
Namun, dengan keberanian yang tersisa, aku memutuskan untuk kembali berlayar. Meski tanpa pengalaman, meski tanpa rekan, aku membawa kain putih dan sebuah lentera kecil—simbol dari semangat yang tak akan pernah padam. Karena meskipun badai menguji, lautan tetap membentang luas, dan di ujung sana, entah di mana, ada cakrawala baru yang menanti untuk dijangkau.
"Jangan menyerah…
Masih ada harapan di setiap gelap,
Dan pelangi mungkin bukan di langit,
Tapi di dalam hatimu sendiri."

Komentar
Posting Komentar